Materi

Bukan Fundraising! Tapi Friendraising

“Fundraising is a friendraising.”

Apa produk lembaga zakat Anda? Pertanyaan ini sering menjadi bahan diskusi hangat bagi kita sebagai pegiat zakat. Sebagian menyatakan program sebagai produk, sebagian lain menyatakan tema ZISWAF sebagai produk. Untuk memudahkan memahaminya, kita bisa merujuk ke pertanyaan selanjutnya, siapa sebetulnya customer lembaga zakat? Jawabannya adalah Muzakki dan Mustahik. Dengan demikian, produk lembaga zakat adalah semua yang digunakan untuk melayani customer lembaga, Muzakki dan Mustahik.

Jika ZISWAF sebagai sebuaah tema adalah merupakan produk bagi muzakki, dalam ruang penghimpunan. Lalu bagaimana ‘menjual’ produk yang bentuknya norma dan pengetahuan? Apakah prosesnya menjadi pragmatis sebagaimana transaksi produk pada umumnya, lembaga zakat menjual, masyarakat membeli?

Pergolakan diskusi tersebutlah yang melandasi prinsip-prinsip strategi Fundraising dengan konsep Friendraising. Kebutuhan untuk meningkatkan penghimpunan dilakukan dengan melakukan proses pengenalan diri yang massif dan membangun ikatan dengan banyak pihak dari kalangan muzakki maupun mustahik. Dengan kata lain Friendraising yang terencana akan berdampak kepada fundraising lembaga zakat.

Lalu dimanakah terjadi proses transaksi?

Sebelum menjawab dimana terjadinya proses transaksi, kita perlu juga menguatkan pemahaman tentang misi-misi utama lembaga zakat. Paling tidak ada dua misi utama lembaga zakat. Pertama: Menyampaikan pengetahuan tentang ZISWAF seluas-luasnya kepada masyarakat, agar masyarakat tergerak untuk mengamalkannya. Kedua: Memastikan penyaluran ZISWAF dari masyarakat tersebut dilakukan melalui lembaga yang legal.

Dengan misi inilah tim penghimpunan lembaga zakat bekerja. Dengan memahami misi ini akan memperkuat perluasan strategi friendraising lembaga zakat. Petakan objek pertemanan, sebab sebagaimana jamaknya komunikasi, siapa yang berbicara akan memberikan dampak yang berbeda bagi publik, sebelum apa yang dibicarakan. Dalam hal ini kita sedang membahas level pertemanan. Level pertemanan menjadi bahan untuk menyusun strategi segmented customer.

Dua hal tersebut, yaitu memahami misi dan memainkan level pertemanan, akan sangat menentukan transaksi pada lembaga zakat. Semakin luas penyebaran misi lembaga zakat kita lakukan, dan juga semakin banyak pertemanan level strategis yang kita sambungkan, maka akan mendukung semakin besarnya nilai transaksi yang akan dikelola. Tinggallah lagi, keterampilan kita dalam mengelola interaksi dan komunikasi yang menjadi keterampilan pokok yang harus dikuasai setiap fundraiser.

Terakhir, supaya interaksi dan komunikasi kita menjadi aktifitas jangka panjang, maka kembangkan prinsip kolaboratif yang saling berbagi manfaat dan peran kepada setiap objek kelola friendraising lembaga zakat. Ini akan menjamin transaksi permanen yang lebih panjang.

Selamat mencoba!

Ditulis oleh:
Bambang Suherman
Direktur Mobilisasi Dompet Dhuafa
Pengajar Sekolah Amil Indonesia bidang fundraising

Ayo bergabung bersama ribuan amil zakat dan pegiat kemanusiaan se-Indonesia dalam e-Class Sekolah Amil Indonesia di aplikasi Telegram. Tempatnya belajar tentang program pendayagunaan, fundraising, hukum, dan keuangan lemabaga zakat dan keuangan.

Anda akan dapatkan materi-materi teknis setiap pekannya langsung dari pengajar-pengajar Sekolah Amil Indonesia yang sudah berpengalaman di dunia zakat dan kemanusiaan. Klik bit.ly/eClassSAI untuk bergabung, gratis.

Comments

comments