Oleh: Arif Nurhayadi

  • Dilema Respon Pandemi Covid
    Sejak genderang perang terhadap Covid19 ditabuh Pemerintah RI disampaikan Presiden Joko Widodo tanggal 2 Maret 2020 dengan ditemukannya 2 orang positif Corona berdomisili Kota Depok, saya meyakini nasib Indonesia takkan jauh beda dengan puluhan bahkan ratusan negara lainnya. 

    Lockdown diberlakukan di berbagai kota, pabrik ditutup, sekolah kampus diliburkan, mall, cafe, restoran, tempat wisata dan hiburan digembok total, hingga transportasi publik pun  dilumpuhkan. Semua itu, katanya, semata-mata dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona yang bak hantu yang secara ganas menggentayangi masyarakat bahkan mematikan pasien positif terutama mereka yang berasal dari kalangan usia rentan baik balita maupun manula.

    Sebagai bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat saya sebenarnya tidak setuju dengan tindakan berlebihan ini, karena konsekuensi yang bakal hadir adalah ketidakmampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena kehilangan pekerjaan baik secara langsung maupun bertahap. Menurut Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bidang UMKM, Suryani Motik menyebut warga yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi corona (Covid-19) bisa mencapai 15 juta jiwa (CNN Indonesia, 01 Mei 2020). Sekarang sudah di atas tanggal 15, berarti angkanya sudah meningkat dan terus meningkat. 

    Alhasil, agresifnya merespon Covid19 “dengan brutal ini”  agar tidak meluas secara massif, justru malah menimbulkan masalah sosial baru di masyarakat yaitu kekurangan pangan bagi seluruh masyarakat khususnya kalangan menengah ke bawah yang berprofesi buruh, pekerja harian srabutan, bahkan sampai menimbulkan gejolak kebangkrutan para business owner  yang tak mampu bertahan atau tak sanggup bermetamorfosa dengam situasi pandemi yang cukup lama ini. Bisa jadi kematian karena Covid19 akan menurun tajam, tapi ancaman kematian dan kriminalitas akibat resesi ekonomi akan jauh lebih tajam kenaikannya, kalau ini dibiarkan alami begitu saja.

  • Amil Harus Tetap Bertahan
    Rangkaian kondisi ini tentu tidak boleh dibiarkan, harus ada sebagian kecil anggota masyarakat yang menjadi penegak syiar kepedulian dan memfasilitasi kelas midle up atau aghniya yang masih punya “cash” untuk membantu ribuan bahkan jutaan keluarga yang sekejap “dimiskinkan” oleh Covid19. Dan dialah Amil Zakat.

    Profesi lain boleh “lockdown” tapi Amil Zakat tidak boleh latah ikut-ikutan “lockdown”. WFH (Work From Home) diberlakukan, amil zakat tidak perlu juga mengekor dan terus menikmati masa-masa WFH-nya. Karena layanan amil bukan sekedar “bisnis onlineshop” yang tinggal goyangkan jari lalu kemas-kemas produk dan kirim via ekspedisi. Tidak bisa dan tidak mungkin demikian.

    Amil harus “extraordinary person”, yang tetap harus aktif mengedukasi zakat, meng-campaign program penyaluran, menjemput donasi, menyalurkan bantuan, hingga menyusun dan distribusi bantiannya. Beberapa memang bisa di “online” kan. Tapi mayoritas lain kurang relevan. Hasilnya kerja Online tetep aja beda dengan prilaku layanan ofline yang dapat lebih banyak menggugah “muzakki” dan membahagiakan mustahik. Lagi pula kalo amil “lockdown”, ya “lockdown” pula deh penerima manfaat lembaga zakat ini. Tentu akan menambah panjang jumlah manusia kena dampak akibat lalainya kita “menengok” nasib fakir miskin sekitaran lembaga sendiri.

  • Sejatinya DNA Amil Zakat adalah DNA Pejuang
    Kenapa DNA amil zakat adalah DNA pejuang? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan “mereview” bagaimana para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Dan didapati minimal 4 ciri indentik di antara mereka.

    Pertama, semua pejuang pasti Result Oriented, selalu berorientasi pada hasil.  Mereka selalu berorientasi pada kemenangan, pada tercapainya target-target yang harus dicapai. Kondisi bisa jadi berubah-ubah, tapi bukan berarti target atau tujuan mereka pun berubah-ubah. Indonesia harus Merdeka! Mau dijajah Jepang kek, Belanda kek, siapapun, dengan cara apapun, pokoknya ikhtiar lahir batin, siang malam untuk menggapai kemerdekaan. Persenjataan utama bukan pada kecanggihan senapan, tank, ataupun bom namun pada semangat untuk kemerdekaan itu sendiri. Amil yang “result oriented” tidak tidak lelah untuk menyusun dan menjalankan banyak strategi jitu, untuk satu tujuan yaitu tercapainya sekian juta layanan mustahik dengan predikat memuaskan. Gonta ganti cara, gonta ganti alat, merubah peta dan strategi bukan hal yang baku, semua mengalir mencari jalan terbaik dengan tetap result oriented. “Mbuh piye carane, sing penting sukses, sing penting target tercapai”.

    Kedua, Pejuang itu “Proaktif”, tidak sekedar siap siaga apalagi pasif, sekedar menanti peluang datang. Amil harus selalu bergerak terus, jiwa raganya, untuk mencari peluang, mengedukasi aghniya, membangun sinergi kebaikan dengan siapapun yang punya ruh yang sama baik sesama amil zakat, mitra korporat, Duta Zakat, Muzakki, pegiat komunitas, dan lainnya. Target-target selalu dimaknai sebagai “bahan bakar” untuk bergerak tanpa lelah, senantiasa mencari kesempatan untuk memberikan “makna” bagi aghniya, dhuafa, dan stakeholder terkait lainnya.

    Ketiga, Pejuang itu pembelajar sejati dan tak pernah menyerah (never give up). Saking proaktif-nya, mungkin ia seringkali gagal, tapi kegagalan itu selalu dimaknai sebagai proses pembelajaran sebagai susunan anak tangga menuju keberhasilan. Amil tak pernah menyerah kalo dia belum “menemukan” mitra yang tepat, tidak menyerah ketika muzakki/donatur yang dia kunjungi belum juga menitipkan donasinya, termasuk juga dalam melakukan verifikasi, validasi mustahik yang cukup melelahkan karena harus memastikan mustahik sesuai kriteria alias tepat sasaran. Semua dilakukan “Lillaah”, sambil terus memperbaiki cara kerjanya, teknis komunikasinya, standar pelayanannya, standar pelaporannya, dan lain sebagainya. Semua selalu dipandang positif untuk memperbaiki layanan diri dan lembaganya bagi muzakki, mustahik, serta stakeholder lainnya.

    Keempat, dia sadar untuk membangun peradaban yang mulia harus bisa bersinergi dengan berbagai elemen, berbagai lembaga, komunitas, aktivis, atau pegiat sosial kemanusiaan lainnya. Tidak ada persaingan apalagi sampai menegasikan… Amil zakat selalu bergandengan tangan, berbagi tugas dan fungsi, saling melengkapi.. dan ini benar-benar energi positif yang sangat luar biasa dirasakan seluruh stakeholder zakat. Ibarat dalam peperangan, semua pejuang dari berbagai latar belakang bersatu untuk tujuan kemerdekaan, melawan penjajah.Semua saling bahu membahu dan itu pula yg diperankan semua amil zakat di Indonesia saat ini.

  • Bersabarlah dan teruslah berkontribusi
    Ramadhan usai, Syawal hadir dan semoga Corona pun segera menyingkir. Inilah doa dan harapan kita semua. Bagaimana dan apapun kondisinya, ini adalah momentum terbaik amil zakat untuk membuktikan DNA Pejuang-nya; berfikir, bertindak, berkontribusi sepenuhnya dengan orientasi 100% bagi umat bukan kelompok organisasinya saja. Semoga Allah memberikan ekstra kesabaran, ekstra spirit perjuangan, dan ekstra mahabbah bagi seluruh pejuang peradaban khususnya amil zakat di era Covid19 ini, bagi umat dan negara Indonesia tercinta ini. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *