Oleh: Nana Sudiana (Sekjend FOZ & Direksi IZI)

Forum Zakat (FOZ) dan Sekolah Amil Indonesia (SAI) sejak awal pandemi Covid-19 tetap berkomitmen mendorong agar amil bisa tetap professional dan berkualitas dalam kemampuan maupun kinerjanya. FOZ sejak awal menyadari bahwa salah satu kunci perbaikan dan peningkatan gerakan zakat di Indonesia adalah Sumberdaya Manusia (SDM) amil. Dan disinilah peran penting SAI yang telah di-launching oleh FOZ pada tanggal 24 Agustus 2016 yang bertempat di Hotel Kyriad Airport Tangerang, Banten.

FOZ menyadari bahwa SAI sangat diperlukan untuk menjadi pusat pendidikan amil berkualitas di Indonesia (Indonesia Amil Education Center). Pendidikan amil yang berkualitas dan secara praktik dikawal oleh para praktisi zakat sampai sejauh ini memang belum ada. Karena itu SAI mengambil peran sebagai instrumen untuk mewujudkan kenggulan pendidikan para amil. SAI sejak awal juga memastikan materi ajarnya yang terintegrasi dengan skema sertifikasi profesi Amil Zakat yang terstandar nasional Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Kita juga tahu, sertifikasi BNSP sendiri kini telah diakui di negara-negara ASEAN.

Kini hampir empat tahun SAI hadir ditengah gerakan zakat Indonesia. Selain terus meningkatkan jangkauan-nya, SAI juga terus menyempurnakan kurikulum dan kualitas proses pendidikanya. Tulisan singkat ini bermaksud menggambarkan secara sederhana bagaimana SAI terus berkomitmen tetap melaksanakan tugas dan amanahnya ditengah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia.

SAI dan Pendidikan Amil Indonesia
Sejak dilahirkan oleh FOZ, SAI punya misi utama sebagai pendidik amil Indonesia. Dalam perkembangan-nya, secara lembaga SAI terus menyempurnakan diri. Dalam ekosistem gerakan zakat, tugas SAI jelas tak mudah. Ia harus mampu menjaga amil berkualitas ilmu dan wawasannya. Dan proses ini tanpa kecuali. Artinya tak boleh SAI menyerah, walau situasi apapun. Tak heran makanya, walau wabah Covid-19 hadir di negeri ini, SAI tetap bekerja mendidik amil Indonesia.

SAI dari awal kelahirannya terus memiliki berkomitmen menjaga amanah yang melekat padanya yaitu amanah Munas FOZ ke-7 di Bandung pada tahun 2015. Dalam moment tertinggi musyawarah gerakan zakat Indonesia ini, gerakan zakat memberi amanah pada pengurus FOZ terpilih untuk mengawal secara maksimal proses peningkatan kapasitas organisasi pengelola zakat sekaligus peningkatan Amil zakatnya sebagai tulang punggung gerakan zakat.

Dalam penerjemahan proses-nya, SAI secara bertahap ikut menggerakan trend gerakan zakat Indonesia. Dari trend yang hanya berfokus pada penghimpunan semata, kini secara signifikan terus bergeser menuju keseimbangan baru di dalam gerakan zakat. Situasi saat ini, gerakan zakat bukan semata berkosentrasi pada penghimpunan saja, namun telah meluas untuk meningkatkan program dan kreativitas pengelolaan zakat di Indonesia.

FOZ yang membidani SAI juga lalu terus melengkapi SDM terbaik untuk mengawal SAI agar jadi wahana pendidikan amil yang terbaik. FOZ juga secara bertahap terus meng-evaluasi kinerja SAI agar terus bisa mewujudkan pendidikan amil yang terstruktur baik dan kualitasnya meningkat setiap waktu. Semua tujuan tadi, tak lain untuk menyamakan kemampuan dan kapasitas amil zakat dimanapun di seluruh Indonesia.

Amil zakat adalah elemen penting perbaikan umat. Bila amil terus baik dan kinerjanya meningkat, yang akan merasakan manfaatnya pastilah umat juga. Amil juga adalah para aktivis yang bergerak untuk terus memperbaiki dan melayani kebutuhan umat. Para amil tentu harus punya pengetahuan, skill dan wawasan yang baik dalam memerankan dirinya di tengah umat. Dengan kemampuan yang terbaik yang dimiliki para amil, semoga ia akan lebih mudah menuntaskan agenda-agenda umat. Gerakan zakat tentu akan semakin terbantu bila para amil yang ada, lewat SAI, terus ditingkatkan kapasitas-nya lewat proses belajar mengajar amil yang sistematis. Proses di dalamnya sendiri secara garis besar mengarah pada satu tujuan utama yaitu perbaikan gerakan zakat Indonesia.

Seiring munculnya Covid-19 dan terbitnya kebijkan untuk melakukan social distancing dan dilanjutkan physical distancing atau menjaga jarak fisik disebabkan merebaknya pandemi Covid-19, SAI pun turut menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan situasi ini. selain mengambil peran nyata dalam kontribusi kampanye #DiRumahAja, SAI juga tetap harus menunaikan kewajibannya untuk mendidik amil Indonesia. Saat yang sama, SAI sebenarnya telah memiliki sederet panjang rencana pelatihan, training maupun pengajaran berjenjang untuk para amil Indonesia. Namun dengan merebaknya situasi Covid-19, SAI-pun banting stir, mengubah seluruh rencana pelatihan-pelatihan off line-nya yang sudah dijadwalkan menuju pelatihan online (daring) demi tetap membantu para amil menguatkan kapasitas dan wawasannya.

SAI-pun sebagai elemen FOZ yang disiapkan untuk memiliki kemampuan pembiayaan mandiri tentu tak ingin mati suri karena Covid-19. Makanya, selain pelatihan-pelatihan daring berbasis aplikasi zoom, Instagram dan Google Meet yang sifatnya gratis, SAI juga menggelar berbagai pelatihan yang berbayar. Walau pun begitu, karena sifat dasarnya SAI adalah non profit dan dedikasinya untuk gerakan zakat, maka jelas ia tak mengambil kesempatan untuk mencari keuntungan berlebih. SAI hanya memastikan punya sumber pendanaan untuk menopang eksistensinya dan semua keuntungan, sejatinya akan kembali untuk meningkatkan proses layanan yang diberikan pada para amil anggota FOZ.

Gerakan zakat memang terdampak oleh Covid-19, akibatnya ada yang serius ada yang tidak terlalu terpengaruh. Di situasi Covid-19 ini, ternyata keinginan belajar lembaga-lembaga zakat tak surut. Terutama soal ilmu dan keterampilan untuk bertahan dan tetap survive seperti manajemen keuangan di saat krisis ataupun kemampuan digital marketing yang memang kini jadi kebutuhan utama gerakan zakat di tengah pandemic Covid-19.

Pergeseran kebutuhan gerakan zakat terhadap SAI pun tak bisa dihindari. Yang tadinya lebih banyak fokus pada peningkatan dan pengembangan lembaga, di masa Pandemi, kebutuhan ini justru mengarah pada menjaga eksisitensi lembaga. Maka tak heran, program-program yang ditawarkan SAI ditengah Pandemi Covid-19 pun laris manis bak kacang goreng. Bukan saja puluhan, proram-program yang digelar bahkan bisa menjangkau lebih luas area serta diikuti oleh ratusan amil yang tersebar di seluruh Indonesia.

Program-program baru yang ditawarkan seperti soal story telling dan manajemen krisis di era pandemi atau bagaimana mengelola program saat pandemi-pun tak kalah ramai oleh kehadiran peserta. Di situasi pandemi, ternyata ada blessing in disguise untuk SAI, bahwa di tengah kesulitan lembaga-lembaga zakat justru SAI hadir sebagai penolong sekaligus pintu solusi dari kebuntuan lembaga zakat untuk menemukan solusi atas wabah yang terjadi ini.

SAI secara digjaya hadir menjadi entitas yang bukan hanya eksis namun juga bermanfaat bagi gerakan zakat Indonesia. Di tengah kekhawaitran sejumlah lembaga akan masa depan-nya di tengah pandemi-19, SAI justru menawarkan beragam solusi alternative yang kaya gagasan dan smart. Jelas ini peluang bagi SAI untuk terus mengembangkan diri di masa depan dan terus menemukan jatidirinya sebagai “Teman Belajar Amil Zakat Indonesia”.

Selamat untuk SAI dan FOZ yang telah secara cantik dan elegan terus mengawal gerakan zakat Indonesia. Bahkan saat di masa sulit sekalipun akibat tekanan pandemi Covid-19 ini.

Benar kata sebuah Hadits yang mengatakan : “Barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat”(HR. Muslim).

#Jaya Terus SAI
#Maju uterus FOZ dan Gerakan Zakat Indonesia
#Kerja sama-sama, Kuat sama-sama

*). Di Tulis di pagi hari I’tikaf Ramadhan 1441 H (13 Mei 2020).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *