Sumber: Buku ”Manajemen ZIS” oleh Erie Sudewo

Pimpinan berbeda dengan pemimpin. Tak semua pimpinan adalah pemimpin. Begitu juga tak semua pemimpin berkesempatan jadi pimpinan. Pemimpin berkaitan dengan sifat kepemimpinan. Sedang pimpinan berhubungan dengan kedudukan saja.

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (Al-Qur’an surah As-Sajdah [32]: 24).

Pemimpin vs Pimpinan

Pimpinan berbeda dengan pemimpin. Tak semua pimpinan adalah pemimpin. Begitu juga tak semua pemimpin berkesempatan jadi pimpinan. Pemimpin berkait dengan sifat kepemimpinan. Sedang pimpinan berhubungan dengan kedudukan saja. Karena tak punya sifat kepemimpinan, sebenarnya pimpinan tak bisa memimpin. Anak buah patuh bukan karena kepemimpinannya. Hanya karena posisinya dia atasan, punya kuasa, jadi takut sehingga terpaksa. Kekuatan pimpinan cuma di jabatan.

Pimpinan yang andalkan jabatan, begitu lepas jabatan jadilah bencana. Kata-katanya masih didengar bekas anak buah karena sopan santun. Tapi tak digubris. Perintahnya di iyakan tapi tak dijalankan. Tanpa jabatan, seseorang yang tadinya tergolong pimpinan bisa dengan mudah terkena shock.

Sedang pemimpin tanpa jabatan dia tetap bisa memimpin. Pemimpin sejati tahu bahwa jabatan itu penting. Tapi dia mafhum bahwa yang lebih penting jadilah orang baik. Sifat kepemimpinannya mendorong dia membangun tim. Dengan sendirinya organisasi jadi solid. Pemimpinan sejati layani atasan dan bawahan sama baiknya. Bedanya cuma di sentuhan. Atasan butuh laporan tepat waktu, kinerja baik, serta target terpenuhi. Bawahan butuh penghargaan. Ada yang suka ditepuk pundaknya, tapi memang lebih banyak yang suka bonus. Sesekali makan siang beramai ramai, atau rayakan yang ultah meski cuma lima menitan.

Sesungguhnya itu konsolidasi terbaik. Hasilnya, sadar atau tidak sadar, pasukan merasa enjoy dengan pemimpin, dan merasa at home di kantor. Pemimpin begini dirindukan pasukan. Tiada hadirnya kehilangan, ke munculannya ditunggu-tunggu. Kata-katanya diperhatikan karena ketajaman hatinya bisa menembus sesuatu yang tak orang lain lihat. Pemimpin begini banyak unggulnya. Orang hormat karena jabatan tinggi tak tinggikan hatinya. Di dalam kantor atau di luar kantor, pemimpin begini juga jadi ‘guru kehidupan’. Dan setelah tidak lagi menjabat, pemimpin in terserang post power syndrome.

Manajer-Pimpinan-Pemimpin

Lembaga zakat memang butuh pemimpin hebat. Perusahaan tak begitu. Sebab perusahaan yang kuat sistemnya, otomatis sistem itu telah perankan diri jadi pemimpin. Semua patuh pada aturan, bukankah tugas pemimpin memotivasi tim untuk patuh. Jadi, jalankan roda organisasi perusahaan jauh lebih mudah karena sistem sudah baku dan Cuma cari uang. Kehadiran pemimpin di internal perusahaan tak lagi setiap saat. Untuk kondisi begini mutlak dibutuhkan adalah manajer.

Harus pula dibedakan antara manajer dengan pemimpin. Tugas manajer pastikan sistem berjalan sesuai harapan. Dengan sistem yang sudah baik, orang normal dengan segera sanggup perankan diri sebagai manajer. Hanya kesempatan saja yang tiap orang berbeda. Dengan dimagangkan saja siapa pun yang normal pasti bisa jadi manajer. Sebab ukur untuk jadi manajer juga sudah baku.

Dibandingkan pimpinan, manajer sudah pasti pimpinan. Seseorang dikatakan manajer karena pegang jabatan. Seseorang dikatakan pimpinan, karena juga punya kedudukan. Tapi tak semua pimpinan adalah manajer. Karena manajer berhubungan dengan kemampuan mengelola atau memenej. Sementara banyak pimpinan tak bisa memenej. Banyak pimpinan yang diangkat tapi tak punya kemampuan manajerial dan sifat kepemimpinan. Inilah sesungguhnya problem birokrasi. Hanya karena golongan pangkatnya tertinggi seseorang bisa duduki jabatan. Itu syarat jadi pimpinan. Ukuran keberhasilan pimpinan? Birokrasi tersandera di sini. Kemampuan manajerial dan jiwa kepemimpinan yang paling penting justru terabaikan.

Asal kata ‘manajer’ adalah terjemahan lafal dari manager. Sedang asal-usul kata manager mengacu pada management. Manajemen adalah jumlah tata kelola yang jadi sistem. Sedang manajer adalah orang yang menggawangi atau mengoordinir sistem manajemen agar berjalan baik. Perilaku manajer buruk tak jadi soal asal tak pengaruhi atau malah macetkan manajemen. Perilaku manajer buruk memang tak disoal, sebab mereka hanya berkait dengan kedudukan.

Sedang pemimpin berbeda. Pemimpin harus lebih baik karena tertuntut punya sifat kepemimpinan. Pemimpin yang buruk bukan pempimpin namanya. Dia cuma pimpinan. Pimpinan yang tak punya kemampuan manajerial dan jiwa kepemimpinan, itu seburuk-buruk orang yang punya kedudukan dan jabatan. Ingat, jabatan dan kedudukan punya kuasa dan wewenang. Di tangan orang buruk, bukankah jadi mudharat dan bencana?

Pimpinan yang bukan manajer sudah pasti bukan pemimpin. Itu artinya pimpinan tak punya kemampuan manjerial. Pimpinan yang manajer pun belum tentu bisa jadi pemimpin. Sebab manajer cuma berkait dengan persoalan koordinasi manajemen. Di perusahaan manajer yang sifatnya kurang baik, itu tak masalah asal di luar jam kantor. Tuntutan perusahaan cuma manajemen berjalan baik. Bagi perusahaan, perilaku buruk adalah soal pribadi. Contohnya perusahaan mode dan fashion, tak pernah mempermasalahkan perilaku manajer dan karyawan lain yang laki-laki kewanitaan. Lalu di balik majalah porno, kita sudah bisa bayangkan, bukan?

Lembaga zakat bisa sehat asal petingginya sadar posisi. Dengan sadar diri, dia paham bahwa lembaga zakat itu bersifat nirlaba. Sadar posisi menuntun dia untuk membawa lembaga zakat tidak jor-joran seperti perusahaan.

  • Ingat perusahaan besar karena memang terus besar-besarkan diri. Sedangkan lembaga zakat besar karena benefit yang ditebar.
  • Perusahaan butuh nama dan pengakuan. Sedangkan lembaga zakat harus ingat ayat: “Bekerjalah. Serahkan hasilnya pada Allah, Rasul, dan masyarakat.”
  • Perusahaan butuh beragam pengakuan, sementara lembaga malah zakat harus rendahkan hati.
  • Perusahaan tak izinkan gaji siapa pun melebihi presiden direktur. Sementara lembaga zakat harus siap, gaji di jaringan bisa lebih tinggi.
  • Perusahaan jadikan pusat sebagai segalanya. Lembaga zakat jadikan pusat segalanya untuk jadikan jejaring berkembang sebaik-baiknya. Karena hikmah di mana pun, karena bicara nilai bicara kemuliaan yang tak berarti guru pasti lebih baik dalam mendidik diri ketimbang murid, maka pusat harus mau belajar dari jaringannya yang terbukti bisa kembangkan nilai lebih baik. Itulah keberhasilan di lembaga nir laba. Pusat bisa kembangkan jejaring bahkan melebihi dirinya.

Syaratnya, lembaga zakat harus dikelola dengan rendah hati. Rendah hati sumber kebaikan, tinggi hati sumber masalah. Orang yang rendah hati dalam kondisi normal tetap waspada. Yang tinggi hati dalam kondisi tenang merasa paling pintar, paling hebat, dan paling tahu. Dalam kondisi tak normal, orang rendah hati merasa bersalah. Sebaliknya, dalam kondisi tak normal, orang tinggi hati salahkan orang lain.

Lembaga zakat bicara tentang benefit. Bicara benefit adalah cara manfaat. Bicara manfaat bukankah itu nilai kehidupan? Alam salah langkahnya lembaga zakat punya pemimpin yang tak tahu tuntutan nirlaba. Yang sudah terlanjur berbenahlah. Mulailah dengan menata diri untuk rendah hati. Orang rendah hati jadi besar karena tidak besar-besarkan dirinya. Kini ingin jadi pimpinan, pemimpin?

Rasululla SAW: “Jika Allah SWT bermaksud menjadikan seorang pemimpin berhasil, maka Allah akan menjadikan para pembantunya itu orang-orangf baik” (Hadits Riwayat Nasa’i).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *