Oleh: @randdict

Sebuah harapan hidup sejahtera merupakan mimpi setiap pribadi yang mulya. Mampu beribadah setiap waktu, menjalankan perintah Allah, mempelajari ilmu agama, mendatangi kajian, hingga selalu bersamangatnya dalam menyibukan diri dikegiatan dakwah. Itu gambaran muslim yang haus akan ilmu Allah.

Ada kalanya iman naik dan turun, ya ini manusiawi. Cuma saja ada yang perlu dikhwatirkan ketika ungkapan “iman naik turun” telah dianggap menjadi suatu bentuk kebolehan yang umum. Lantas  bisa hilang sudah semangat dalam meninggikan lagi konsistensi dalam keimanan.

Benar saja kata Armand Maulana (vocs Gigi). Lewat lagunya yang merupakan soundtrack serial Ramadhan ” Para pencari Tuhan” yang terlatun sebagai berikut: “Pagi beriman, siang lupa lagi, sore beriman, malam amnesia”. Inikah gambaran manusia pada umumnya?.. ketika susah ingat Allah, tetapi sudah jaya enggan membawa-bawa Allah.

Naik turunnya iman jangan sampai kita jadikan alasan untuk kalah disementara waktu. Tetapi justru kita jadi sebagai pembangkit listrik tenaga iman. Begitu merasa mulai sayup semangat ibadah kita, langsung strum lagi. Ajak raga ini untuk menyambangi kajian-kajian Islam, buka lagi buku-buku ilmiah dengan rujukan  yang tepat, mulai lagi sholat sunnah malam serta dhuhanya, tegur sapa lagi Al Qurannya, ngaji lagi sama ustad dilingkungan sekitar kita, atau sampai pada pencarian teman lagi untuk diskusikan masalah agama. Turunnya iman jangan didiamkan terlalu lama. Sebab dapat menjauhkan kita dari Agama.

Rasulullah Saw pun, selalu berdoa agar hati beliau tetap teguh. Dalam hadist riwayat Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah, Aisyah Ra berkata: “Nabi Saw berdoa dengan mengatakan” : “Wahai Tuhan yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu.”

Aku pernah bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa anda sering berdoa seperti itu? apakah anda sedang merasakan ketakutan?”  beliau menjawab: “Tidak ada yang membuatku merasa aman, hai Aisyah. Hati seluruh hamba ini berada diantara dua jari Allah yang maha kuasa. Jika mau membalikan hati seorang hamba-Nya, Allah tinggal membalikannya begitu saja.”

Beberapa masalah yang dapat menipiskan Gharizah (semangat beragama) kita dalam berusaha untuk konsisten adalah:

1. Teralihkan oleh seuatu.
Hal ini yang paling sering terjadi. Diwaktu kita didatangkan sesuatu kepunyaan yang baru sebut saja misalnya Gadged, kendaraan, hobi, teman (termasuk pacaran), kegemaran dan semacamnya. Kita yang sedang taat-taat nya beribadah bisa saja lupa dan teralihkan. Awalnya lupa, lalai sampai tingkatannya parahnya acuh sama yang namanya ibadah apalagi dakwah. Kadang mencoba melawan suara hati yang sebetulnya masih ingin sibuk beribadah, sayang hawa nafsu lebib kuat mengendalikan  pikiran hingga timbul desah resah berbunyi : “sekali-kali gak melulu urusan agama, kan kemarin-kemarin udah rajin ibadah. Gampang kok, kalau urusan udah selesai baru ibadah lagi”. Jika kita menurutinya, maka bersiap untuk ucapkan selamat tinggal pada semangat ibadah dan gairah dakwahmu yang kemarin begitu deras.

2. Mendapat Pekerjaan
Sebelum dapat kerja rajinnya bukan main. Sholat 5 waktu hingga dakwah via sosmed tidak pernah tidak. Setiap bertemu teman yang sudah bekerja dan sibuk berkegiatan, langsung diingatkan dengan segala cara agar teman kita mengingat Allah dan agama. Tapi begitu kita diberi cobaan berupa dikabulkannya doa kita saat sholat, yang misalnya dapet pekerjaan. Alasan sibuk, takut sama boss, takut dipecat, kelelahan shift prosedur, sistem perusahaan yang ketat sontak membuat diri kita melempem dalam ibadah. Sedikit-sedikit bilang “gak ada waktu, sibuk banget, lain waktu aja, tunggu waktu kosong, gak bisa lagi.”  Begitu diajakin pergi kekajian atau berkumpul bersama teman-teman dakwah seperjuangan. Dan begitu waktu libur kerja, dihabiskan untuk rekreasi, hangout bareng teman-teman baru atau digunakan untuk tidur panjang seharian dengan alasan istirahat setelah semingguan pekerjaan.

3. Sedang ada masalah.
Banyak yang mengambil jalur pintas dalam menyelesaikan masalah, yang sedang dialami oleh setiap manusia. Sebut saja maksiat lagi, mabuk lagi padahal kegiatan ini sudah janji buat jauh-jauh ditinggalkan. Kemudian dilakukan lagi karena ada masalah yang mungkin berat menghinggapi. Namun sayang,  bukannya meningkatkan sedekah, ibadah malam dan puasa sunah. Malah terjun lagi kecomberan duka. Hadiahnya, agama jauh ditinggalkan. Ingat, “1 langkah kita mendekati Allah, maka 10 langkah Allah mendekati kita. Sebaliknya, 1 langkah kita menjauhi-Nya, 100 langkah pula Allah menjauhi kita”.

4. Menikah
Jangan salah bisa jadi justru ini masalah terbesar. Dimana kebanyakan para Aktivis Dakwah amat gencar ketika masih lajang. Dimanapun ada aksi, kegiatan sosial, pengajian tentang Islam, pasti langsung dihadiri dan disempat-sempatkan. Pokoknya Jihad fisabilillah deh. Lalu berubah drastis kala pernikahan sudah dilalui. Ada daya penurunan semangat dalam dakwah. Seolah dakwah pensiun ketika kesibukan meniti rumah tangga dipakem tidak boleh terganggu alhasil dakwah pun ditinggalkan. Seharusnya menikah itu memotivasi seseorang dalam mendalami Islam dengan implikasi dakwah secara totaly.

5. Memiliki Anak
Buah hati ialah anugerah yang diberikan Allah Azza Wa Jalla kepada kita. Tidak lain kita diminta Allah untuk mendakwahkan anak-anak kita. Agar tentunya agar menguasai dan menjalankan perintah agama seauai syariat. Tapi lagi-lagi alasan anak sering menjadikan kita memilih mengendurkan volume ibadah dan dakwah kita. Padahal dulu mintanya pada Allah dengan ibadah yang total. Termasuk tak pernah absen disetiap kajian ditambah kegiatan berdakwah dalam segala bentuk yang stabil.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman yang sudah hijrah. Agar menjadi control kemudi untuk selalu mengingat Allah dan terus berdakwah lillahita’ala. Sebab kata Al aka Ucay ex vokalis Rocket Rockers: “Hijrah itu mudah, yang mahal ialah Istiqomah”. Maka pastikan hati dalam lilitan iman yang dalam. Paksakan saja akan hal-hal yang bernuansa Islam. Sambungkan terus isi kepala ini dengan rasa haus atas ilmu-ilmu  agama.

Belum ada kata terlambat kawan untuk kembali menceburkan diri dijalan kebaikan. Sebab Allah mengampuni dosa yang kecil (Gofur), dosa yang besar (Gofar) dan dosa yang diulang. Namun jangan juga anggap remeh kelonggaran ketentuan ampunan ini. Perjelas komitmennya, karena Allah memiliki deadline bagi setiap manusia dimuka bumi.

Mari luruskan niat, jangan mudah dialihkan dengan dunia. Sebab barang-barang dunia layaknya sebuah basah satu jari kelingking yang dicelupkan kelaut. Paksa terus hati ini untuk taqwa kepada Ilahi.

Kemudian jangan terlalu manja apalagi cengeng, bila tetiba masalah hinggap berlagak hebat menyelesaikan sendiri tanpa Allah. Dan ada yang sampai berucap “mana Allah, tidak bisa membantu disaat saya tertimpa musibah”. Bagaimana Allah mau bantu jika ibadah mengendur ditambah berprasangka buru ke Allah begitu. Jangang lupa bahwa kaya miskin adalah cobaan. Ini berlaku juga pada sesuatu yang indah maupun yang buruk sedang kita alami. Stabilkan saja ibadahnya. Kalau belum dibantu Allah berarti belum total ibadahnya.

Contohlah Sayidina Ali bin Abi Thalib Ra. Menikah diusia muda dan hidup dalam kemiskinan. Apa itu membuatnya meninggalkan Islam dan Dakwah?.. Justru menjadikan beliau makin taat dan menjadi pemimpin umat yang penuh dengan kecerian. Peran-peran besar disisi Rasulullah Saw  diembannya. Sesampai doanya yang terkenal: “Ya Allah jadikan dunia ditanganku, dan letakan akhirat dihatiku”.

Sudah dikasih anak harus makin semangat dakwahnya. Jangan mengiming-imingi rekreasi umum saja untuk keluarga. Bawa anak dan Istri ketempat-tempat kajian, ikut ngaji dan menemani kita dalam kegiatan-kegiatan dakwah. kegirangan bagi anak dan istri itu bukan kemana mereka diajak pergi. Namun kemana untuk selalu berdampingan dalam satu keluarga yang utuh. Kan kesuksesan bagi umat muslim adalah ketika berhasilnya masuk surga sekeluarga.

Sudah-sudah, berhenti berkata sibuk. Sesibuk apapun kita didunia ini Tidak akan ada seperempat sibuknya Rasulullah Saw. Yang menjalankan perintah Allah serta pedulinya terhadap umat. Jadi berhenti beralasan untuk menrunkan frekuensi ibadah dan dakwah. Ada satu hal yang penting untuk dicamkan.

Siapapun yang hendak atau sudah hijrah, mustahil untuk bisa Istiqomah bila seseorang tersebut tidak mengaji. Cari guru yang mumpuni, temui ulama-ulama dan ustad-ustad yang sedang membahas tema-tema dalam ketentuan adab Al Islam. Bila enggan untuk lakukan, cepat atau lambat niscaya seseorang akan kembali pada jalan kelam yang terdahulu.

Seperti inilah gambaran mahalnya keistiqomahan. Hanya pribadi-pribadi yang siap bertarung sajalah yang sanggup menjalankan konsistensi keimanan tanpa batas. Lagi dan lagi mari semangati diri. Seandainya benar saat ini kita sudah hidup sederhana dan ‘biasa’ sekali dalam segi karir serta jabatan. Dalam menegakan Kalimat Allah, kita janganlah jadi yang “biasa-biasa” saja. Kontribusi nyata harus berkelanjutan dan tidak boleh berujung.

Bismillah untuk harapan Istiqomah taqwa hingga kita diwafatkan. Semoga Allah meridhoi setiap derap langkah kita menuju-Nya.

Camkan, ‘bahwa ibadah dan dakwah jangan pernah selesai.’

“Yang membuatmu sibuk itu adalah ketiadaan Al-Quran dalam dada dan jiwamu.” -KH. Bachtiar Nasir

“Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.” [QS. Al-Isra’: Ayat 15]

Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *